Senin, 06 Februari 2012

Tetap Optimis


            Terbanglah bersama burung Garuda. Jangan Cuma kumpul-kumpul dengan katak-katak kecil yang suak mendongak keatas dan berteriak: “Lari, Lari..., langit akan runtuh...”.
            Rasa optimis dan fakta bekerja seiringan. Keduanya merupakan pembasbian persoalan.
“Jauhilah rasa pesimis dan sinis, tanamkan rasa optimis dalam hidup anda untuk menyongsong masa depan”.

Mencoba Hal Baru

            Ya, hari ini seperti hari-hari kemarin. Tapi ada yang lain dari pertanyaan “Adi” di pagi ini. Kak, kenapa kita sarapan pagi-pagi sekali? Kak hanya tersenyum menjawab pertanyaan lugunya itu. Adi...! hari ini kan kita sahur, untuk persiapan “puasa” seharian. (jawab Ibu) puasa bu? Memang kenapa kita harus berpuasa bu? Ibu tersenyum, dan menjawab; ia puasa. Menahan haus dan lapar serta segala bentuj hawa nafsu yang dapat menghilangkan atau membatalkan ibadah puasa kita. Kenapa kita harus berpuasa? Karena ini adalah keajiban kita sebagai seorang muslim. Dan merupakan pembelajaran bagi kita untuk mengerti dan ikutmenrasakan penderitaan saudara-saudara kita yang serba kekurangan. Jadi apakah Adi siap berpuasa hari ini? Arul diam.... Ibu tahu, ini puasa pertamanya bagi Adi, mungkin tidak akan full hingga Maghrib. Tapi, setidaknya Adi mau mencoba, dan berusaha.allah pasti akan membalasnya, dan mengerti.... ingat Allah maha mengetahui lagi maha penyayang, Tutur Ibu. Iya Adi, dulu kakak seperti kamu.

Pandangan Pertama


Wanita itu menatap sang pria yang baru saja mengajaknya kenalan. Ia hampir saja mengucapkan namanya seperti yang diminta oleh si pria. Tapi kemudian dia melontarkan sebuah ide, “Bagaimana bila kita tak perlu tahu nama kita masing-masing?”

“Mengapa?” Tanya pria itu keheranan

“Karena aku ingin malam ini jadi malam yang indah. Coba lihat, kita ketemu di pesta pernikahan teman kita. Kita tidak saling kenal, tapi kita saling tertarik. Mungkin lebih baik malam ini kita berbicara santai, menikmati dinner bersama dan dansa bersama pada saat acara dansa dimulai, kemudian setelah selesai, kita pulang ke rumah masing-masing tetap tanpa tahu siapa diri kita masing-masing. Pulang ke rumah dengan perasaan bahagia….”

Pria itu menatap heran pada si wanita, “Mengapa harus begitu?”

“Agar kenangan indah ini berlangsung abadi! Coba bayangkan, saat kita tua nanti dengan rambut putih memenuhi kepala, dan beragam masalah kita hadapi, kita akan memiliki suatu kenangan indah untuk menghibur diri. Kenangan akan malam ini. Kenangan yang tak akan pernah rusak. Karena telah tersimpan abadi di masa lalu dengan tanpa cacat sedikitpun. Karena memang kita tak merusaknya dengan berantem satu sama lain, dengan perbedaan pendapat, dengan rasa cemburu, dengan kekecewaan….”

Pria itu memandang takjub pada si wanita yang didapannya. Ide itu sungguh-sungguh terdengar gila. Karena sesungguhnya ia begitu ingin kenal lebih jauh. Tapi kemudian ia malah mengangguk perlahan. Dan malam itu, mereka berbicara, menyantap makan malam dan berdansa dengan indahnya. Menciptakan kenangan indahnya sendiri. Dan kemudian berpisah, tetap tanpa mengenal siapa nama asli satu sama lainnya…

Akhirnya si pria keesokan harinya terus kepikiran wanita tersebut. Hidupnya menjadi gelisah. Ia pun kemudian memutuskan untuk mencari tahu siapa wanita itu. Ia tak lagi peduli apabila dengan pertemuan berikutnya, mungkin memang akan menimbulkan kekecewaan dan akhirnya merusak kenangan indah abadi yang sudah mereka simpan untuk masa tua kelak. Ia tak peduli, ia ingin lebih mengenal lagi pujaan hatinya tersebut. Ia siap kecewa karena cinta daripada tidak bisa mengekspresikan apa yang ia rasa. Rasa cinta yang kini begitu bergemuruh di dadanya. Ia tidak bisa lari dari cinta…

Pentingnya Sebuah Komitmen Dalam Hidup




            Untuk mencapai sebuah tujuan, seseorang dituntut untuk berkomitmen. Menahan diri, tetap fokus pada satu hal dan bertekun dalam melakukan sesuatu adalah bagian dari komitmen. Namun sampai kapan ini semua harus dilakukan? Sampai tujuan kita tercapai? Cerita berikut ini akan menjawabnya untukmu. 

            Seorang lelaki tua tinggal di pinggir sebuah kota. Setiap pagi, lelaki ini akan bangun sangat pagi, lalu naik kereta bawah tanah menuju ke pusat kota. Di sana dia akan duduk di pojok jalan dan mengemis. Dia melakukan ini setiap hari selama hidupnya, dan itu telah berlangsung selama hampir 20 tahun. Tunggu dulu, dia bukan pengemis gadungan yang marak di negeri kita, yang pura-pura mengemis hanya karena malas. Ini terbukti dari rumahnya yang kumuh dan berbau sangat tidak enak hingga mengganggu tetangga-tetangganya. Suatu hari, para tetangga tidak tahan lagi dengan bau yang mengganggu ini dan melaporkan rumah pengemis itu ke polisi. Petugas yang berwenang mengetuk pintu rumah pengemis tersebut dan kemudian melakukan pembersihan rumah untuk menghilangkan bau yang tidak enak tersebut. Dalam pembersihan itu, mereka menemukan kantong-kantong kecil di pojok-pojok rumah berisi uang yang nampaknya dia kumpulkan sepanjang tahun-tahun mengemis. Polisi mengumpulkan kantong-kantong uang itu dan menghitung jumlah uangnya. Segera mereka menyadari bahwa lelaki tua pengemis itu telah menjadi miliarder. Mereka kemudian menunggu lelaki tua itu pulang untuk memberitahukan kabar gembira ini. Ketika dia pulang, petugas polisi langsung memberitahu bahwa lelaki itu tidak perlu lagi mengemis karena dia sekarang telah menjadi orang kaya. Namun apa yang terjadi, dengan datar lelaki tua itu melewati para petugas, masuk ke rumah dan mengunci pintu, besoknya dia kembali mengemis seperti biasanya.

            Komitmen seharusnya timbul karena kamu menyukainya, karena kamu memiliki semangat dan gairah di bidang tersebut sehingga menjalankan komitmen itu tidak akan ada habis-habisnya. Orang lain bisa berkomentar apa pun tentang komitmen yang kamu miliki, namun yang terpenting adalah kamu tidak bermasalah dengan komitmen tersebut. Jadi, jangan ragu untuk berkomitmen pada bidang yang kamu senangi.

Apakah Menikah Di Dasari Kecocokan





Kalau dua-duanya doyan musik, berarti ada gejala bisa langgeng... Kalau sama-sama suka sop buntut berarti masa depan cerah...(That simple?........)

Berbeda dengan sepasang sandal yang hanya punya aspek kiri dan kanan, menikah adalah persatuan dua manusia, pria dan wanita. Dari anatomi saja sudah tidak sebangun, apalagi urusan jiwa dan hatinya. Kecocokan, minat dan latar belakang keluarga bukan jaminan segalanya akan lancar.. Lalu apa?

MENIKAH adalah proses pendewasaan. Dan untuk memasukinya diperlukan pelaku yang kuat dan berani. Berani menghadapi masalah yang akan terjadi dan punya kekuatan untuk menemukan jalan keluarnya. Kedengarannya sih indah, tapi kenyataannya?

Harus ada 'Komunikasi Dua Arah',
'Ada kerelaan mendengar kritik',
'Ada keikhlasan meminta maaf',
'Ada ketulusan melupakan kesalahan'
dan 'Keberanian untuk mengemukakan pendapat'.

Sekali lagi MENIKAH bukanlah upacara yang diramaikan gending cinta, bukan rancangan gaun pengantin ala cinderella, apalagi rangkaian mobil undangan yang memacetkan jalan.
MENIKAH adalah berani memutuskan untuk berlabuh, ketika ribuan kapal pesiar yang gemerlap memanggil-manggil.
MENIKAH adalah proses penggabungan dua orang berkepala batu dalam satu ruangan di mana kemesraan, ciuman, dan pelukan yang berkepanjangan hanyalah bunga. Masalahnya bukanlah menikah dengan anak siapa, yang hartanya berapa, bukanlah rangkaian bunga mawar yang jumlahnya ratusan, bukanlah perencanaan berbulan-bulan yang akhirnya membuat keluarga saling tersinggung, apalagi kegemaran minum kopi yang sama...

MENIKAH bukan didasari atas kesucian diri, tapi kesucian hati. Apalah artinya MENIKAH apabila tidak suci hati. Diri yang kotor dapat mudah diperbaiki, namun hati yang kotor tak mudah diperbaiki.

MENIKAH adalah proses pengenalan diri sendiri maupun pasangan anda. Tanpa mengenali diri sendiri, bagaimana anda bisa memahami orang lain...?? Tanpa bisa memperhatikan diri sendiri, bagaimana anda bisa memperhatikan pasangan hidup...??

MENIKAH sangat membutuhkan keberanian tingkat tinggi, toleransi sedalam samudra, serta jiwa besar untuk 'Menerima' dan 'Memaafkan'.

Dengan kata lain, MENIKAH merupakan penggabungan dua bagian yang saling berbeda untuk dicari kecocokannya, bagaikan mur dan baut, bukan persamaan yang dangkal, bukan pula persamaan yang terlihat indah di mata. Perbedaan harus dicari kecocokan bukan persamaan. Perpisahaan dengan alasan perbedaan adalah alasan yang naif, dan dibuat-buat.

Kebahagiaan Tidak Datang Krena Momentum Khusus Atau Momentum Besar


            Boneka anjing itu memang sungguh lucudan menggemaskan. Dengan di bekali dua baterai di dalamnya, ia bisa bergerak ke depan dan ke beakang sambil mengeluarkan suara yang agak unik. Lehernya yang fleksibel, bisa bergerak manggut-manggut dan matanya yang dapat bersinar-sianr seiring dengan suara dan gerakannya menjadikan ia mainan yang amat di sukai oleh Shifa yang masih berumur hampir empat bulan itu. Harganyapun terbilang sangat murah hanya dengan uang satu lembar lima puluh ribu rupiah, kita sudah dapat membawa pulang mainan tersebut ke rumah. Sebenarnya boneka anjing kecil itu  bukanlah satu-satunya barang jualan yang di jajarkan di lantai dasar sebuah mall di Jakarta Selatan tersebut. Ada banyak mainan-mainan, lain diantaranya adalah boneka kelinci yang berdiri dan dapat menggerak-gerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan lucunya sambil diiringi dengan suara-suara yang unik juga. Dua jenis mainan ini nampaknya menjadi primadona bagi Shifa sampai-sampai ia tidak mau berhenti memandanginya boneka yang bergerak tersebut.
            Dan kamipun  ijkut tertarik untuk membeli dan membawa boneka anjng trsebut kerumah. Sesampai dirumah walaupun dalam suasana capek dan sudah lumayan malam, boneka anjing kembali di mainkan. Kontan suasana rumah seakan menjadi heboh dan larut dalam kegembiraan melihat mimik muka Shifa yang tersenyum-senyum dan memandanngi boneka tersebut dengan rasa aneh dan seperti penasaran. Kami sekeluarga tidak henti-hentinya menertawakan setiap kejadian yang lucu dan langka tersebuttawa semakin pecah ketika Shifa menendang boneka yang berjalan menghampiri kakinya sampai-sampai boneka tersebut terguling tidak berdaya. Saking senagnnya sampai-sampai kami tidak sadar bahwa waktu sudah menunjukan 21:30.
            Kisah tadi adalah sekelim contoh bahwa untuk menjadi bahagia, kita sebenarnya tidak perlu menunggu suatu momentum yang khusus dan besar menjadi bahagia, kita sebenarnya tidak perlu menunggu suatu momentum yang khusus dan besar seperti mendapat hadiah undian, kenaikan gaji, pangkat, jabatan, atau ketika berhasil memiliki rumah baru, mobil baru, atau pencapaian-pencapaian lainnya.
            Sejatinya setiap orang bisa menjadi bahagia kapan saja dan dalam posisi apa saja. Namun demikain, seiring kita sendirilah yang menjadiakn kondisi-kondisi yang sedaang kita alami sebagai penghalang penggapai kebahagiaan tersebut. Status rumah yang masih ngontraklah, rumah yang masih sempitlah, masih pegawai rendahanlah, penghasilan kecil pas-pasan lah, belum punya mobil lah, belum memiliki anak lah, anak-anak masih pada bandel lah, gaji tidak naik-aika lah, jabatan tidak di promosi lah, dan banyak kondisi-kondisi lain yang seolah-olah menjadi penghalang untuk menjadi bahagia.
            Walaupun tidak dapat di pungkiri bahwa hal-hal diatas adalah saangat penting bagi setiap orang, namun menjadikan sebagai penghalang kebahagiaan adalah siakap yang kurang tepat. Keputusan kebahagian yang sebenarnaya ada di tangna kita sendiri. Seprti yang disampaikan oleh Benjamin Franklin di atas, bahwa kebahagiaan sangat tergantung dari pengaturan-pengaturan di dalam batin atau pikiran dan bukan tergantung dari hal-hal di luar kita. Jadi sekali lagi, putuskannlah untuk menjadi bahagia dekarang juga. Perbanyak “mainan-mainan kebahagian” di dalam diri dan keluarga kita yang membuat kita senantiasa bersyukur atas karunia Tuhan, dann untuk menjadi orang yang bersyukur dan bahagia, fokuslah pada apa saja yang sudah kita miliki, bukan pada apa-apa yang belim kita miliki.